Berbeda rasanya seperti dua belas purnama yang lalu
Saat olfaktori tergelitik dengan aroma panggangnya
Dan simpul manis terlukis di setiap penawarnya
Kini bukan lagi kopi yang membuatnya pahit
Tapi getir mengecap ruam-ruam semesta
Menopang dagu, dan ragu, dan sedu pilu
Bukan lagi sudah arabika yang menyiksa organ et sinistra
Tapi redupnya cahaya raut berkaki dua
Dengan kalut bertanya dan menuntut
Pada siapa dan apa yang tak juga patut
Bukan lagi kopi yang warnanya gelap
Tapi sempat pupusnya sekian harap
Khawatir kian membius jendela otonom
Hingga tak harmoni seindah metronom
Mungkin
Dua belas purnama kemudian
Bukan aroma yang tersaji di kedai kopi
Tapi kuat
Getir
Haru
Dan harap
Yang melebur dalam sunyi
Dibalut benci sambil bersyukur hari ini
Dalam diam
Mengenang yang sudah pergi, kembali
Berjuang
Menentang
Pasrah
Dan menyerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar