Rabu, 17 Februari 2021

Kedai kopi vs 2 Maret 2020

Berbeda rasanya seperti dua belas purnama yang lalu
Saat olfaktori tergelitik dengan aroma panggangnya
Dan simpul manis terlukis di setiap penawarnya

Kini bukan lagi kopi yang membuatnya pahit
Tapi getir mengecap ruam-ruam semesta
Menopang dagu, dan ragu, dan sedu pilu

Bukan lagi sudah arabika yang menyiksa organ et sinistra
Tapi redupnya cahaya raut berkaki dua
Dengan kalut bertanya dan menuntut
Pada siapa dan apa yang tak juga patut

Bukan lagi kopi yang warnanya gelap
Tapi sempat pupusnya sekian harap
Khawatir kian membius jendela otonom
Hingga tak harmoni seindah metronom

Mungkin
Dua belas purnama kemudian
Bukan aroma yang tersaji di kedai kopi
Tapi kuat
Getir
Haru
Dan harap
Yang melebur dalam sunyi
Dibalut benci sambil bersyukur hari ini

Dalam diam
Mengenang yang sudah pergi, kembali
Berjuang
Menentang
Pasrah
Dan menyerah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar