Jumat, 18 September 2020

untuk Rasa

Selamat datang, rasa
Kupersembahkan kekosongan ini, yang lirihnya berpijak pada ranting yang melapuk
Kutautkan pada takdir yang kau bawa
Luka ini membuat suka lama bergerak
Meniti satu demi satu rasa yang seperti kau
Menyiksa, tapi tak duka
Sama sekali tidak
Aku ingat, ada yang pernah kau pinjam
Bahagiaku yang belum kau kembalikan
Tapi aku juga ingat, jaminanya adalah dia yang bahagia
Aku pahami itu, dia yang bahagia, dan aku tak akan meminta

Selamat datang, rasa
Dia yang entah siapa, kau sedang bersamanya, bukan?
Dan kau menyentuhku tiba-tiba bukan?
Dan kau membiarkan aku pada dia, yang entah siapa
Aku sedang mengalun, kau tak tahu saja
Terlalu indah kini kugadai
Tapi bukan aku mengusirmu
Kisah yang tak berawal apa juga perlu ada akhir?
Pergilah saja, aku tak pernah tahu kau ada
Aku tak pernah tahu dia, yang entah siapa
Pernah menyentuhku
Disini
Di dalam
Di tempat luka
Aku tak pernah tahu

Selamat tinggal, rasa
Sampai jumpa di kisah awal tanpa akhir

Kembali pada Satu

 Kami sadar tapi tak mampu menolak dusta
Yang tersurat bahkan tersiratkan
Yang terbelenggu malah tak kunjung melepaskan
Kau peduli
Aku yang merugi
Kami berdosa, juga tak kuasa
Allah berikan satu
Satu kehidupan beserta nikmat akal
Allah peduli
Kami yang tak terpuji

Ayo kembali
Bukan kemari, tapi ke depan senja kemarin
Waktu sadar menjadi patuh
Waktu hati yang tak jenuh
Atau syukur yang kalah keluh

Senin, 14 September 2020

Tuhan Pertemukan Kita

Tuhan pertemukan ribuan mata dalam satu cerita
Salah dua menatap, dua terikat, dua terpikat
Melebur anggap jadi harap
Bermimpi yang tak pernah dimimpi

Tuhan pertemukan ratusan sendu
Sedetik mengharu, sedetik merindu, sedetik tertipu

Engkau yang dipertemukan Tuhan pada kita
Kita pada sendu yang tak pernah bertemu
Kita pada cerita barumu dan aku

Tuhan pertemukan kita dalam satu cerita
Aku dengan senduku
Kamu dengan cerita
Kita dalam ribuan makna
Dalam satu cerita

Senin, 07 September 2020

Seharusnya

 Seharusnya, tak kubayangkan indah berdua
Tak kurasakan hangat kasih
Tak kuinginkan masa bersama

Seharusnya, kubiarkan aku
Melebur jadi abu
Bebasnya mencair
Mengalir meski terkilir

Seharusnya, aku membaca
Apa yang tidak
Apa yang harus
Apa yang mungkin
Apa yang ragu
Apa yang yakin

Tak seharusnya aku sendirian
Ini jiwa ingin surga, raga ingin nyata
Telah pertaruhkan cinta, berujung lara
Sesalku hanya membatu
Menggabung asa dan ragu
Menjadi netral dan kekal
Indah tak menjadi indah
Indah yang menjadi salah