Rabu, 17 Februari 2021

Kedai kopi vs 2 Maret 2020

Berbeda rasanya seperti dua belas purnama yang lalu
Saat olfaktori tergelitik dengan aroma panggangnya
Dan simpul manis terlukis di setiap penawarnya

Kini bukan lagi kopi yang membuatnya pahit
Tapi getir mengecap ruam-ruam semesta
Menopang dagu, dan ragu, dan sedu pilu

Bukan lagi sudah arabika yang menyiksa organ et sinistra
Tapi redupnya cahaya raut berkaki dua
Dengan kalut bertanya dan menuntut
Pada siapa dan apa yang tak juga patut

Bukan lagi kopi yang warnanya gelap
Tapi sempat pupusnya sekian harap
Khawatir kian membius jendela otonom
Hingga tak harmoni seindah metronom

Mungkin
Dua belas purnama kemudian
Bukan aroma yang tersaji di kedai kopi
Tapi kuat
Getir
Haru
Dan harap
Yang melebur dalam sunyi
Dibalut benci sambil bersyukur hari ini

Dalam diam
Mengenang yang sudah pergi, kembali
Berjuang
Menentang
Pasrah
Dan menyerah

Senin, 08 Februari 2021

Salah yang tak salah

Keakuan diri
Menjeda waktu yang tak berhenti
Berdebat lembut
Dengan hati saling menyambut

Bahagiamu, yang akan menjadi urusanku
Apakah tidak penting bagimu?
Aku, yang ingin mengerti setiamu
Apakah tidak juga patut bagimu?

Bukan tentang terlambat
Atau mungkin tak sepakat
Terlanjur banyak berekspektasi
Dan menyimpulkan janji sendiri

Jika tak ayal saling merangkul
Tak akan sampai kuasa ingin merangkul
Jika berhenti bicara cerita
Dan tak patuh bahasa cinta
Jangan harapkan adanya kita

Kamis, 04 Februari 2021

Inhalasi

Dalam jatuh dan bangun
Sambil mendalam inhalasi beralun
Dan pedih dari ulu hati
Naik sudah tak terkuasai
 
Sudahkah kita berterima kasih
Pada setiap pedih perih
Yang kita tuangkan dalam benci
Dibalut gelagak di siang hari
 
Sudahkah kita menerima
Jiwa pergi dan yang tiada
Membayar semua belas janji
Tanpa melihat duka sekian kali
 
Percaya saja, katanya
Kita raba bersama esok buta
Namun sudah cukup berencana
Dan membuka lembar berkaca

Redupnya matahari pukul tiga
Mewujud temaram mu ditutup ceria

Senin, 01 Februari 2021

Satu jam tiga puluh dua menit

Dalam waktu
Dalam tunggu
Tertata ruang di sujud yang panjang
Berlatih sabar di ufuk timur
Sampai hangat dalam renungan
Sinar menyapa
Mendengarkan
Meredam sepi
Yang luka
Yang nyata
Tertuang serta

Dua puluh delapan menit terakhir
Dingin mulai mengalir
Sinar berpulang ke barat

Dan satu jam tiga puluh dua menit
Menjadi jawaban
Dalam ruang di sujud yang panjang
Tentang mentari yang mungkin kembali
Mungkin juga pergi
Mungkin utuh
Mungkin juga luruh